6 Upacara Adat Bali yang Menarik Hati Wisatawan

Berwisata ke Bali selalu menyimpan pesona yang tak ada habisnya. Tak hanya kaya akan wisata alam seperti pantai dan pegunungan yang indah, Bali juga kaya akan wisata seni dan budaya. Tak hanya itu, ritual adat yang identik dengan perayaan agama di Bali juga menarik bagi wisatawan karena mengandung keindahan dan kedamaian. 

Pada saat upacara adat, masyarakat Bali biasanya akan beramai-ramai turun untuk merayakan. Mereka menggunakan baju adat Bali dan berbaur dalam upacara adat yang diselenggarakan serentak. Tak jarang pula mereka menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya sehingga menjadi hal yang menarik untuk disaksikan para wisatawan. 

Ada banyak upacara adat masyarakat Bali yang menarik hati wisatawan. Banyak yang sengaja datang dan menyewa hotel murah di Bali hanya untuk menunggu momen perayaan upacara adat tertentu untuk didokumentasikan dan dijadikan objek foto. Berikut beberapa upacara adat di Bali yang menarik hati wisatawan. 

1. Ngaben 
Ngaben merupakan ritual khusus masyarakat Bali untuk mengantar kepergian jenazah yang dilakukan dalam iring-iringan banyak orang. Upacara ngaben memiliki tiga tujuan utama yaitu sebagai bentuk pelepasan roh atau Sang Atma dari belenggu duniawi, mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta atau  5 unsur utama yang membangun badan kasar manusia dan untuk simbolisasi keikhlasan pihak keluarga. 

Pada pelaksanaannya ada lima jenis ngaben yang biasa dilakukan masyarakat Bali. Pertama adalah Ngaben Sawa Wedana, yaitu upacara yang dilakukan dengan melibatkan jenazah yang masih utuh. Sebelum ngaben jenazah tidak dikubur terlebih dahulu tetapi diletakkan di balai warga selama 3 sampai 7 hari setelah waktu meninggalnya. 

Kedua adalah ngaben asti wedana yaitu upacara yang melibatkan jenazah yang pernah dikubur.  Sebelum ngaben, digelar ritual ngagah yaitu pengambilan tulang belulang sisa  jenazah dari dalam kubur. Setelah terkumpul barulah dilakukan arak-arakan ngaben. 

Ada juga ngaben yang tidak melibatkan mayat karena situasi tertentu seperti jenazah tidak ditemukan atau meninggal di luar negeri. Sebagai gantinya, iring-iringan peserta ngaben hanya membawa kayu cendana yang dibakar. Upacara ini disebut swasta. Upacara ngaben untuk anak yang belum tanggal gigi disebut dengan ngelungah, sedangkan ngaben untuk bayi yang keguguran disebut warak kruron. 

2. Upacara Saraswati
Saraswati merupakan hari raya masyarkat Bali yang diperingati setiap enam bulan sekali (210 hari) pada waktu Saniscara atau Sabtu Umanis Wuku Watugunung.Upacara ini merupakan penghormatan pada Dewi Pengetahuan yaitu Dewi Saraswati.

Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, Dewi Saraswati digambarkan sebagai perempuan cantik berlengan empat yang duduk pada teratai di atas seekor angsa dan merak. Kedua tangan kanan Dewi Saraswati membawa sitar atau veena dan ganatri, sedangkan tangan kirinya membawa pustaka atau keropak dan sitar atau veena.

3. Upacara Melasti 
Upacara Melasti merupakan rangkaian dari pelaksanaan Hari Raya Nyepi. Upacara ini dilaksanakan 2-4 hari sebelum Nyepi dan dilakukan oleh seluruh masyarakat Hindu Bali.Tujuan utama dari ritual upacara adat Melasti ini adalah membersihkan alam atau bhuana Agung dan membersihkan diri. 

Pada saat upaya semua benda yang dianggap suci, seperti pratima, arca, jempana, simbol senjata nawasanga, umbul-umbul, diarak ke sumber air seperti laut, danau dan sungai untuk dibersihkan. Iring-iringan diikuti musik dari gamelan Baleganjur menemani warga yang berarak menggunakan baju adat berwarna putih. Hal inilah yang biasanya menarik minat wisatawan karena bagus dijadikan sebagai objek foto. 

Setelah upacara pembersihan selanjutnya digelar angamet tirtha amertha yaitu mengambil air suci yang merupakan intisari kehidupan untuk kesejahteraan manusia dan alam. Jadi secara umum, upacara Melasti bertujuan untuk mensucikan diri dan membersihkan alam dari energi negatif.

4. Omed-omedan
Upacara omed-omedan merupakan tradisi adat yang unik dan menarik perhatian. Upacara yang didominasi muda mudi ini biasanya diselenggarakan satu hari setelah hari raya nyepi. Dalam bahasa Indonesia, omed-omedan berarti tarik-menarik. 

Salah satu desa yang rutin menyelenggarakan upacara omed-omedan ini adalah Desa Sesetan, Denpasar, Bali. Pada saat upacara, anak muda dan mudi berusia 17-30 tahun atau yang belum menikah bisa berpartisipasi dalam acara ini. Puncak dari upacara adalah adanya tontonan kelompok pemuda dan pemudi saling gelut, cium dan tarik-tarikan. Terakhir pasangan muda-mudi ini akan disiram air oleh pemimpin adat yang memimpin upacara. 

Ritual omed-omedan dilakukan untuk memperkuat kerukunan dan kekompakan warga. Acara diawali dengan sembahyang bersama di Pura dilanjutkan dengan pementasan Barong Bangkung Jantan dan Betina. Setelah semua prosesi dilalui barulah kelompok pemuda dan pemudi memasuki pelataran pura dan mulai tarik-tarikan dan omed-omedan. Acara ini penuh dengan kemeriahan dan gelak tawa. 

5. Upacara Mesuryak 
Tradisi mesuryak merupakan warisan leluhur yang dipertahankan hingga kini. Mesuryak berarti bersorak, berteriak dan beramai-ramai bersuka hati. Tradisi ini diadakan setiap 210 hari atau 6 bulan yaitu setiap hari Raya Kuningan atau 10 hari setelah hari raya galungan. 

Upacara mesuryak dilakukan sebagai bekal dalam  mengantarkan roh para leluhur kembali ke nirwana dengan rasa suka cita. Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa selama Hari Raya Galungan dan hari raya kuningan roh leluhur akan turun ke bumi sehingga perlu diantarkam kemhali ke alam roh. 

Dalam tradisi Mesuryak, para roh leluhur akan diantar dengan suka cita dan penuh sorak sorai. Pada mulanya dilakukan persembahyangan di pura keluarga dan di Pura Kahyangan tiga yang terdapat di desa adat setempat. Setelah sembahyang, warga kemudian membawa sesajen ke depan rumah dan dilantunkan doa-doa yang dipandu pemimpin adat. Setelah itu barulah dilakukan Mesuryak dengan cara melempar uang ke udara dan kemudian beramai-ramai berebutan mengambil uang dengan suka cita dan sorak sorai. 

Aksi rebutan uang ini biasanya mendatangkan keriuhan dan sorak sorai. Wisatawan yang menonton pun terkadang bisa ikut dalam kemeriahan acara. Bila ingin menyaksikan kemeriahan acara ini Anda bisa datang ke dusun Bongan Gede, Kabupaten Tabanan, Bali. 

6. Upacara Mekare-kare 
Ada lagi tradisi unik yang banyak menarik wisatawan di Bali yaitu upacara mekere-kere atau perang pandan. Upacara Mekare-kare dilaksanakan sebagai persembahan untuk menghormati Dewa Indra yang dipercaya sebagai Dewa Perang. Tradisi ini juga untuk menghormati para roh leluhur. 

Tradisi perang pandan atau mekare-kare dilaksanakan sekali dalam setahun yaitu setiap bulan Juni. Tradisi ini biasanya dilakukan bertepatan pada upacara Ngusaba Kapat/Sasih Sembah di depan halaman Bale Agung Desa Tenganan. Bagi masyarakat Tenganan, tradisi Mekare-kare merupakan rangkaian upacara keagamaan dan upacara terbesar dan hanya sekali dalam setahun. Prosesi mekare-kare dilangsungkan selama 2 hari di halaman Balai Desa dan dimulai sekitar jam 2 sore.

Pada saat perayaan, para perempuan mengenakan pakaian khas Tenganan dengan kain tenun gringsing. Sedangkan kaum pria mengenakan pakaian adat madya berupa sarung, selendang, ikat kepala tetapi tidak memakai baju atau bertelanjang dada. Pada tradisi Mekare-kare pandan berduri disimbolkan sebagai gada dan dilengkapi perisai untuk menangkis lawan. Perang pandan hanya diikuti oleh pemuda yang sudah menginjak remaja. 


Meski merupakan ritual adat yang kental dengan perayaan agama, berbagai upacara adat di Bali tak jarang menjadi daya pikat wisata. Banyak wisatawan sengaja datang ke Bali pada saat peringatan hari besar agama  agar bisa menikmati event wisata religi ini. Pada saat perayaan biasanya banyak spot foto bagus yang menghasilkan karya fotography bernilai tinggi. 

Agar bisa menikmati wisata budaya dan religi ini Anda bisa memilih hotel murah di Bali untuk tempat menginap. Anda bisa memilih menginap di POP! Denpasar atau POP! Teuku Umar untuk menyaksikan berbagai ritual upacara adat yang berlokasi di sekitar denpasar. Anda juga bisa menginap di POP! Kuta Beach untuk menyaksikan event budaya yang ada di sekitar Kuta. 

Menginap di jaringan POP! Hotels Bali akan menambah kenyamanan Anda karena dilengkapi fasilitas kamar hotel seperti AC, TV Layar datar, dan layanan Wifi 24 jam non stop. Untuk kenyamanan dan keamanan barang penting, hotel murah di Bali ini menyediakan brankas yang bisa dimanfaatkan oleh tamu. Anda bisa beristirahat dengan santai dan rileks di kamar berdesain modern dan pop setelah seharian berkeliling menjelajah Bali. 

Menginap di hotel backpacker seperti POP! Hotels Bali akan memberi banyak kemudahan bagi Anda. Lokasi hotel yang strategis mudah dijangkau dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Anda juga bisa berjalan kaki ke beberapa spot wisata andalan. 

POP! Hotels Bali merupakan hotel murah yang mengerti kebutuhan wisatawan. Anda dengan mudah bisa memesan kamar melalui website POP! Hotels. Pesan Sekarang!